Hari terakhir di tahun 2011, kembali menatap dengan senyum segala peristiwa yang sempat terjadi sepanjang tahun. Untuk anda yang follow twitter saya di @bonasardo mungkin sudah membaca beberapa twit #wow2011, yaitu beberapa kejadian yang memberi kesan mendalam dan membuat saya belajar lebih banyak tentang kehidupan.
Mengawali tahun 2011, saya menyempatkan diri untuk berlibur ke beberapa tempat sendirian sambil berkontemplasi tentang beberapa tujuan hidup. Termasuk di dalamnya tentang kuliah S2 psikolog saya yang memang sedang ribet dan membuat pusing terguling-guling. Sebagai hasilnya, untuk pertama kali dalam sejarah perkuliahan saya memperoleh IPK 3,8. Angka tersebut memang bukan angka terakhir karena saya masih harus menjalani sisa 2 semester lagi. Tak berapa lama kemudian saya bertemu dengan beberapa orang hebat yang pernah memperoleh IPK ‘nasipat’ (nasib nyaris 4,0) dengan gelar panjang dan kedudukan penting. Saya kembali sadar bahwa di atas langit masih ada langit dan saya harus terus berjuang mencapai langit ke-sekian sampai akhir hidup.
Ngomong-ngomong soal akhir hidup, tepat pada tanggal 29 April 2011, opung yang saya kasihi Pdt. Pinina Sianturi berpulang di usia 84 tahun. Saya sempat membaca riwayat hidupnya secara keseluruhan dan kembali terkenang cerita-cerita yang pernah ia atau ibu saya bagi. Perjuangan hidupnya untuk tetap percaya, yakin, dan tetap berserah pada Tuhan menjadi pelajaran berarti bagi saya. Saat tubuhnya terbaring kaku, saya sempat berpikir bahwa suatu saat nanti ayah dan ibu saya pun akan meninggal dunia, entah kapan. Alangkah indahnya jika ayah dan ibu saya ‘pergi’ dengan tenang dan bahagia melihat keturunannya juga hidup bahagia. Sama seperti opung saya yang juga meninggal dengan sangat tenang. Tentunya semua itu akan dapat terjadi jika ada cinta. Cinta dan hormat pada orangtua selama mereka menikmati sisa hidup mereka, belajar memahami bahwa mereka pun bertambah umur.
Selain orangtua, saya pun bertambah umur. Seharusnya juga bertambah dewasa dan memandang dunia dengan lebih luas dan tidak naif. Dosen saya sering mengingatkan bahwa kedewasaan dan kebijaksanaan sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang psikolog yang baik. Level kedewasaan dan kebijaksanaan saya pun teruji saat menangani pasien psikotik / orang gila di sebuah rumah sakit di Bogor selama bulan November 2011. Saya belajar untuk bersabar, memahami, dan menyadari sesakit apapun kondisi mental seseorang, ia masih memiliki hati. Tidak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran saya untuk duduk, mengobrol, berbagi cerita, tertawa, bermain, bahkan menangis bersama orang gila. But it happen already, and it was crazy! :)
Hal gila lain yang terjadi sepanjang tahun 2011 ialah banyaknya teman-teman saya yang menikah! Beberapa di antara mereka menceritakan kisah percintaannya dan bagaimana mereka memperjuangkan cinta itu. Mereka kembali membuat saya sadar bahwa cinta yang diperjuangkan itu masih ada dan sangat indah. Meskipun akhirnya pernikahan menjadi isu sensitif bagi saya yang masih jomblo walau sering berkencan (ehmm..), tetapi saya jadi banyak belajar memahami diri sendiri, bersabar, dan percaya bahwa kebahagiaan individu bukan hanya karena status semata.
Saat teman baik menikah, mereka tentu memiliki kegiatan dan tanggung jawab lain yang menjadi prioritas utama. Meskipun terkadang masih sempat bertemu lagi dengan mereka, tetapi tetap ada perbedaan dalam hal kuantitas pertemuan. Perubahan tetap terjadi, cepat atau lambat. Sahabat dan teman baik pun dapat datang dan pergi, cepat atau lambat.
Teruntuk seorang sahabat yang sudah saya kenal selama 9 tahun, saya sudah pernah bilang bahwa perubahan itu akan terjadi. Mungkin akan ada saatnya kita harus berpisah untuk sementara atau bahkan untuk selamanya. Hanya masalah waktu dan kesiapan diri untuk menghadapi perubahan. Dirimu sempat hadir di hidupku dan memberikan warna tersendiri. Kamu tetap ada di masa lalu walau mungkin tak ada di masa depan. Tak ada penyesalan mengenalmu, karena aku ada saat ini juga karena ada dirimu :)
Terima kasih untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidup saya di tahun 2011. Terima kasih untuk semua pengalaman dan pelajaran berharga yang tidak pernah saya peroleh di dalam kelas bernilai puluhan juta rupiah. Saya tidak pernah membuat resolusi apapun tiap menjelang tahun yang baru. Sepertinya sudah terlalu basi untuk membuat resolusi tiap tahun baru. Bagi saya, resolusi dapat terus ada tiap bulan, minggu, bahkan tiap hari. Just let it go with the flow and believe that you will be successful every day and every year.
Happy new year 2012 and get ready to achieve and spread more blessings a year ahead.
p.s: don’t get too drunk tonight ;)
“…jodoh itu di tangan Tuhan…”
Saya termasuk tipe orang yang tidak percaya dengan pernyataan tersebut. Anda boleh tidak setuju dengan saya, tetapi saya cukup lama meyakini bahwa jodoh seseorang sebenarnya hasil dari usaha kedua belah pihak, apakah mereka mau mempertahankan hubungan tersebut atau justru memilih untuk mengakhirinya. Kalau memang jodoh di tangan Tuhan, lalu kenapa banyak perceraian? Kalau jawabannya: “…ya berarti itu bukan jodohnya…” Loh? Kok ya jodoh Tuhan diputus oleh manusia sendiri?? Terus nanti dipilih-pilih dan dicari-cari lagi jodohnya? Kemudian kembali bilang bahwa suami atau istri ketiganya ialah jodoh dari Tuhan?
Semakin bingung dengan urusan jodoh-jodohan ini, sampai akhirnya seorang sahabat memiliki opini yang membuat saya memandang tentang jodoh dari sudut pandang yang lain. Dia bilang bahwa segala sesuatu, termasuk jodoh, tetap ada di tangan Tuhan. Yang menarik adalah Tuhan tidak memberikan satu pilihan, melainkan beberapa alternatif pilihan yang memang ada di jalan-Nya. Hidup manusia akan sangat membosankan dan kaku jika Tuhan hanya memberikan satu “jodoh” dan berkutat di orang yang itu-itu saja. Justru Tuhan memberikan banyak pilihan pada kita, mengijinkan kita untuk patah hati, bertemu dengan orang yang salah, bahkan mungkin selingkuh (hehe..) untuk bertemu dengan jodoh yang tepat pada akhirnya. Dia (jodoh) nantinya memang merupakan pilihan kita. Tetapi jangan lupa bahwa dia juga merupakan salah satu kandidat “jodoh” dari beberapa alternatif yang Tuhan persiapkan untuk kita.
Melalui hasil sharing ini, saya semakin yakin bahwa jalan hidup saya kali ini pun merupakan salah satu dari beberapa alternatif yang Tuhan sediakan bagi saya, yang saya pilih sesuai dengan apa yang ingin saya jalani dalam koridor-Nya. Tuhan toh tidak memaksa. Ia terlalu baik hingga mengijinkan kita menikmati tidak hanya satu hal, tetapi banyak hal dalam hidup ini.
Reminder: we’re so blessed :)
Aku melihat ke sekeliling… Rasanya dunia ini terlalu berwarna. Lebih berwarna dari yang pernah aku lihat sejak aku lahir. Aku menatap sebuah pohon dan pohon itu tampak bergoyang seperti menganggukkan mahkota daun-daunnya. Lalu aku tersenyum, menatap pohon itu lekat-lekat, dan tiba-tiba tertawa bersama seorang teman yang setia duduk di sebelahku.
Aku merasa bebas dan lepas. Tawa itu seolah penghargaan dariku kepada alam yang begitu indah. Tetapi saat aku layangkan pandanganku ke tangan, aku melihat jari-jariku bergerak seolah memanjang. Tidak! Jari-jari itu benar memanjang! Tubuhku terasa panas. Darah ini seolah mendidih dan aku mulai mendengar suara-suara yang menyuruhku untuk bertepuk tangan sambil berlari. Ya! Aku harus berlari! Dorongan itu terlalu kuat. Suara-suara yang mirip dengan suaraku itu seolah tak mau berhenti. Aku pun berlari sambil bertepuk tangan. Namun yang tidak kusadari…….aku berlari sambil telanjang.
Yang kuingat hanyalah orang-orang berbaju putih yang kemudian menarikku dengan paksa. Aku mendengar teriakan-teriakan mereka yang bercampur dengan suara-suara yang bahkan aku tidak tahu asalnya dari mana. Aku menatap nanar ke arah orang-orang berbaju putih itu. Aku tak kuasa saat mereka menyuntikkan sesuatu ke tanganku dan membungkus badanku dengan baju ketat yang membuatku tidak bisa bergerak. Sial!
Mataku terpejam. Aku mengantuk. Lidahku terasa kaku dan kelu. Aku merasa tidak bergairah dan tidak kuat untuk berjalan jauh. Kelopak mata ini tidak bersahabat untuk kuajak kembali melihat pohon-pohon yang bergerak itu. Aku hanya berjalan lemah menuju ke sebuah kursi. Aku terdiam dan tidak selera untuk berbicara maupun tertawa. Lebih baik mulut ini tidak perlu aku buka karena lidah yang terasa kaku. Semakin lama aku terdiam, aku semakin mendengar suara-suara itu lagi. Ya…suara yang kembali menyuruhku untuk berlari kencang… Tapi…tunggu…suara itu juga menyuruhku untuk…membuka baju dan telanjang. Suara siapa itu?!
Aku tak kuasa menolak suara itu. Kenapa suara itu selalu muncul? Apa tidak ada orang lain yang mendengar?? Apa suara itu suara Tuhan?? Halooo…apa kamu bisa bantu saya?? Itu suara siapa?! Aku hanya mendengar suara kecil yang mengajakku untuk mengobrol. Suara itu sangat lembut. Tetapi aku tak kuasa membuka mulut ini yang terasa kaku. Badan ini pun terasa lemah dan tidak bersemangat. Seolah-olah energiku terhisap habis oleh Dementor! Hey…aku masih ingat Dementor! Haha… tidak…aku tidak tertawa. Aku tidak sanggup untuk tertawa. Aku sadar pandanganku terlihat lemah dan seperti orang bodoh. Aku hanya sanggup mengatakan: “suara…pergi…suara…” dengan suara lemah.
Orang bersuara lembut di sebelahku merangkul bahuku. Aku merasakan kehangatan dari sentuhannya. Apakah orang itu benar-benar ada? Atau hanya aku yang melihatnya? Sekali lagi aku memandang orang itu dan ia tersenyum sambil tetap berkata-kata yang bahkan tidak aku dengar. Ada apa dengan diriku? Aku tidak mengenal orang-orang di tempat ini. Mengapa aku mendengar suara-suara yang selalu menyuruhku melakukan hal yang memalukan? Mengapa aku disuntik dan…..mengapa tubuhku diikat? AARRRGGGHHHH!!!!!!! LEPASKAN!!! Lepaskan aku!!!!! AKU TIDAK GILA!!!! AKU TIDAK GILAAAAA!!!!!
Aku hanya menangis…hanya menangis. Energiku terlalu lemah untuk berteriak lebih lama. Aku kembali disuntik…..lalu tertidur. Saat terbangun, aku melihat tulisan kecil di sebuah papan: “Bangsal Kresna - Rumah Sakit Jiwa Sumeru”
*Cerita ini merupakan cara saya untuk menggambarkan kondisi pasien-pasien psikotik / schizophrenia / yang biasa anda kenal dengan sebutan orang gila. Selama sebulan saya praktek di sebuah rumah sakit jiwa di Bogor, mencoba memahami kehidupan mereka, belajar tentang dinamika masalah yang membuat mereka menjadi ‘sakit’, hingga mencoba untuk memberikan terapi kelompok, terapi individual, atau sekedar menjadi teman mengobrol dengan kasih yang tulus. Semoga dengan cerita ini, anda semakin tidak malu untuk memeriksakan diri anda atau keluarga anda yang memiliki satu atau lebih gejala-gejala di atas, sehingga tidak bertambah parah jika ditangani lebih dini oleh psikiater / psikolog. Kesehatan fisik itu penting, tetapi kesehatan mental lebih penting. Tubuh langsing dan berotot pun akan sia-sia saat kondisi mentalnya terganggu*
You’re not scared of the dark. You’re scared of what’s in it.
You’re not afraid of heights. You’re afraid of falling.
You’re not afraid of the people around you. You’re just afraid of rejection.
You’re not afraid to love. You’re just afraid of not being loved back.
You’re not afraid to let go. You’re just afraid to accept the reality that he’s gone.
You’e not afraid to try again. You’re just afraid of getting hurt for the same reason.
Mengeluh memang gak akan pernah menyelesaikan masalah. Begitu pula dengan melenguh. Tapi saat mengeluh bersama teman-teman, spontan mereka akan berikan opini atau feedback terhadap keluhan kita, terutama soal jomblo yang tak berkesudahan. Beberapa komentar mereka antara lain:
“…Gue aja kangen jomblo! Nikmati deh masa-masa jomblo lu! Cicip sana-sini tanpa pusing ada ikatan apapun!!…” -Ira, 30 tahun, wanita penyuka ganja-
“…Inget apa yang jadi cita-cita lu selama ini, Bon! Lu harus selesain kuliah S2 dulu sampai cum laude!! Nilai-nilai lu udah bagus, jangan sampe rusak hanya karena masalah preketel gara-gara pacaran!! Harus ada prioritas…” -Lita, 27 tahun, wanita penyuka aksesoris-
“…Pacaran gak selamanya bikin bahagia, loh! Jadi jomblo juga gak selamanya bahagia, kan? See?! Semua dalam kondisi yang seimbang dan lu bisa tentuin sendiri parameter kebahagiaan lu!..” -Heri, 34 tahun, pria penyuka pria-
Kalau menerima komentar-komentar seperti itu, jadi berpikir lagi tentang esensi being single atau jomblo. Mungkin untuk anda yang memiliki keluhan sama dengan saya bisa melihat komentar-komentar tersebut dan mendalaminya tanpa perlu semedi. Bukan sekedar untuk rasionalisasi untuk menenangkan diri, tapi sebagai peneguhan keyakinan bahwa kita gak sendiri. Kita masih bisa berbagi cinta dengan teman dan sahabat tanpa perlu bilang: “Kamu udah makan beyum, babe?”
But one thing for sure, we can still say: “I love you dear friends…”
Pernah merasa kesepian? Saya sedang merasakannya. Beberapa waktu belakangan saya memang cukup sering merasa kesepian. Entah karena status jomblo yang hampir dua tahun, atau karena kencan-kencan yang gak berujung manis, atau mungkin karena berat badan yang terus menjulang naik bak harga sembako saat Lebaran.
Kalau ada yang bilang saya kurang bersyukur, gak juga sih. Saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu ada dan mendukung saya, memiliki teman-teman dan sahabat tempat berbagi tawa dan tangis, memiliki kegiatan yang memang merupakan passion saya sejak lama, dan banyak hal-hal kecil lain yang membuat saya terus bersyukur. I always try to cherish every moment in my life.
Perasaan ini membuat saya ingin menghubungi seorang teman yang sangat spesial. Kami memang jarang bertemu, tetapi saya selalu yakin dia memiliki jawaban akan pertanyaan saya. Setelah melalui obrolan via bbm yang cukup panjang, saya mendapat jawabannya.
I should value myself more! I should have my own ‘happiness parameter’! Parameter kebahagiaan anda pasti berbeda dengan saya. Begitu pula dengan cara anda menilai diri anda sendiri pasti berbeda dengan cara saya menilai diri sendiri. It’s a process. Saya yakin bukan pekerjaan mudah untuk mengubah pemikiran bahwa memiliki kekasih atau memiliki harta berlimpah bukanlah parameter kebahagiaan yang paling tinggi. Parameter kebahagiaan tersebut sudah terlalu normatif di tengah masyarakat karena menjadi kebiasaan. Mengubahnya membutuhkan proses. Sebuah proses yang mengarahkan kita menjadi individu yang lebih dewasa dan matang.
So, it’s okay to be different. Cara saya menilai diri bisa jauh berbeda dari cara anda menilai diri. Saya bisa merasa bahagia dengan memiliki sebuah mobil dan tas bermerk. Tapi saya juga bisa merasa bahagia dengan menikmati tempe goreng panas plus ikan asin. I can feel happy when I fall in love, but I also can feel happy being single cos I have lots of love surround me. It’s my ‘happiness parameter’.
Pada tahun 1914, H.O.S Tjokroaminoto menulis sebuah sajak di Doenia Bergerak sebagai gambaran bangsa Indonesia yang semestinya bisa berjuang untuk menuntut kesetaraan:
“Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia. Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa. Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau? Orang dapat menyuruhnya kerja dan memakan dagingnya. Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas. Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula. Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko. Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar.”
Sekedar berbagi dan mengingatkan bahwa kita ialah masyarakat yang juga memiliki kesetaraan. Kita punya kewajiban, tapi kita juga punya hak. Terlalu serius, ya? Yah…sekali-sekali, lah.. :p
*Di sebuah kafe*
Seorang sahabat bertanya pada saya: “…kenapa ya masalah2 yang kita hadapi di usia2 segini seputar hubungan pertemanan? Ada yang tentang pengkhianatan, cemburu antara pacar sahabat dengan kita, kebohongan yang mungkin karena rasa malu antar teman. Kenapa ya selalu aja tentang persahabatan?”
Saya cuma bisa bilang: “Itu tandanya kita makin dewasa. Tuhan udah gak kasih lagi masalah2 sederhana seperti rebutan mainan atau pacar macam waktu kecil / remaja dulu. Tapi lima tahun lagi mestinya masalah seperti sekarang sudah jadi masalah sederhana. Gak lagi ribet karena kita makin dewasa dan siap dengan masalah yang lebih ribet lagi…”
Sahabat: *mengangguk dan tersenyum*
“…Oh, calon psikolog ya? Bisa baca orang dong?”
“…Waduh…belajar psikologi? Takut ah ntar dibaca…”
Sering sekali kalau saya kenalan dengan orang pasti komentarnya seperti itu. Yang jelas manusia itu bukan buku jadi gak bisa dibaca, dan yang belajar psikologi itu bukan Tuhan jadi gak perlu ditakuti.
Sekedar menjelaskan saja, definisi sederhana dari ilmu psikologi itu merupakan ilmu yang mempelajari tentang kepribadian dan kejiwaan manusia. Kami belajar bagaimana perkembangan manusia dari dalam kandungan, masuk masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa lanjut usia, hingga ia meninggal dunia. Kami mempelajari bagaimana sesungguhnya tiap manusia itu bisa memiliki penghayatan yang berbeda-beda tentang kehidupannya karena berasal dari latar belakang yang berbeda pula. Kami jadi memahami bahwa saat seorang anak memperoleh pola asuh tertentu, atau mengalami hal traumatis maka kepribadiannya akan terbentuk begini atau begitu saat dewasa.
Jadi, psikolog bukan peramal yang bisa mengetahui siapa jodoh anda. Kami juga bukan orang-orang aneh yang mempelajari ilmu semu dan tidak ilmiah (yang ini sangat serius, karena penelitian2nya luar biasa banyak dan scientific sekali). Tetapi, kenapa akhirnya orang-orang menganggap kami aneh atau “takut dibaca” oleh kami? Ya karena kami mempelajari kehidupan manusia. Kami belajar bagaimana mengetahui kepribadian orang hanya dari cerita kehidupannya. Bahkan kami dilatih untuk mengetahui gerak tubuh atau sinkronisasi cerita yang mungkin mengindikasikan orang tersebut berbohong atau tidak. Jadi, gak perlu takut kan? ;)
Penjelasan ini saya tulis sebagai informasi untuk teman2 yang mungkin memiliki niat belajar ilmu psikologi. Yang perlu ditekankan adalah, kalau kamu tidak tertarik dengan kehidupan manusia, maka akan cukup sulit mempelajari psikologi. Tetapi, ilmu psikologi sendiri gak akan mati, karena manusia terus ada, kan?
Selamat belajar :)